Monthly Archives: October 2008

Jemaat yang Baik

Bagi seorang jemaat yang baik yang biasa setiap hari Minggu ke gereja, aku merasa nyaman-nyaman saja dan menikmati suasana di ruang ibadah. Perasaan damai itulah yang menggerakkan aku untuk membantu organisasi bernama Gereja. Sebenarnya bagiku melayani di gereja bukan sebuah beban berat. Tapi yang di balik itu semua sering menyakitkan.

Continue reading

Advertisements

Spongebeb dan Squidward

Spongebob from Nick

Spongebob from Nick

“Squidward, mau main denganku?”
”Tidak.”
”Apa kamu yakin tak mau main denganku?”
”Tidak, Spongebob. Aku tidak mau bermain denganmu”
”Squidward — ?”
”Untuk kesekian kalinya…, Sekarang, besok dan selama-lamanya. TIDAAAKK!!!”

Di tempat yang lain…
”Ayolah kita diskusi sebentar”
”Tidak. “
”Ayolah, ini diskusi lintas agama. Ini sangat membangun iman”
”Menurutmu ini diskusi. Tapi yang terjadi adalah aku harus mendengarkanmu berjam-jam tanpa sedikitpun kesempatanku bicara. Sekali aku bicara, kamu langsung membantah mati-matian”
”Nggak gitulah. Ini kan namanya diskusi”
”TIDAK!! TIDAK!! TIDAK!!!”

Pembicaraanku dengan seseorang yang merongrong aku beberapa hari ini nyaris ngga ada beda dengan pembicaraan Spongebob dan Squidward. Orang ini mengaku intelektual. Mengerti semua agama. Hafal semua isi kitab suci agama manapun. Dan dia mengajakku berdiskusi tentang agama. Kira-kira apa yang terjadi?

Jelas yang terjadi adalah dia bangga dengan kemampuan intelektualnya. Apapun yang lawan bicara katakan adalah “dangkal”. Meskipun lawan bicara beragama X, si intelek beragama Y, si intelek merasa lebih tau agama X. Jadi apa yang diperdebatkan? Aku ogah meladeni dia.

Bisa jadi dia lebih tau tentang Tuhan. Tapi menurutku dia ngga lebih dari orang munafik. Mungkin perbedaan agama bukan untuk diperdebatkan seperti yang dia mau. Melainkan dijalankan karena urusan agama lebih kepada urusan kita dengan Tuhan.

Bak Squidward yang emosional dan terganggu dengan Spongebob, aku berteriak membentaknya dia untuk diam. Dia langsung diam. Aku sedikit merasa bersalah. Tiba-tiba aku merasa menjadi si Spongebob yang feel guilty. Dia seperti Squidward yang mencintai diri sendiri dan membanggakan intelektualitasnya.