Where’s Cungkring?

Di Facebook, temen yang paling banyak di friend list gw adalah temen kuliah. A bit backslash (Wait. It’s not backslash, it’s flashback! Dasar web designer!), gw inget waktu itu punya temen yang iseng dan kurang ajar. Gw ngga nemuin namanya di Facebook.

***

Sebut saja namanya Bunga. (Hiyaaaa!!! Ganti!!!)
OK. Namanya – Bong Cungkring. Anak orang kaya. Kontras dng kondisinya yg tajir, posturnya yg kurus tinggi terlihat kurang gizi. Dan dia ini… pernah nganterin gw dekeeet ama pintu sorga!

Ceritanya kami ada tugas kelompok. Gw harus ke kostan dia kerjain tugas. Dia nawarin tebengan naek motor kelar kuliah. Gw pikir ini usul yang baek sampai gw tau dia biker yang buruk.

Motornya GL Pro. Modifikasi. Motor paling ‘laki’ saat itu. Gw ngga terbiasa duduk di motor laki, meskipun cuma bonceng di belakang.

“OK. Siap ya?”
“Ya. Siap apaan maksudm — waaaakk…..?!?!?!?!”
Belum sempet selesaiin kalimat, gw tersentak dahsyat ke belakang.
“Bong, bilang dulu kalo mau jalan!!”

Seakan tuli, dia meluncur dengan kecepatan supersonik.
Dengan lihai (or he’s just goddamn lucky) dia gaspol motornya selip sana selip sini. Kecepatan makin tinggi. Di depan terlihat dua motor beriringan santai.
“Booong… awaaaas kamu mo nabrak!!!” Dia melaju di antara kedua motor itu! Apa dia mau bunuh diri???
Jarak kira2 setengah meter, dia kurangi kecepatan dikit. Pencet klakson, toleh ke kiri: “WOIWOIWOIWOI!!!”, dan toleh ke kanan: “MINGGIRMINGGIRMINGGIR!!!” Kecepatan naik lagi.

Gw merem. Gw pikir gw bakal ringsek di tengah. Waktu gw buka mata, kedua motor udah jauh itu di belakang kami. Wajah pengendaranya tampak ketakutan. Dan Cungkring? Dia terkekeh-kekeh dan bilang: “Mereka pikir kita orang gila kali yaa??”.

Baru sadar gw belum sempet buang nafas sejak 30 detik lalu. Itu adalah pengalaman pertama DAN TERAKHIR naek motor berdua dengannya.

***

Cungkring tinggal di sebuah kost khusus mahasiswa. Artinya penghuni di situ cowok semua. Salah satunya si Dodot, tetangga kamarnya, yg tanpa sengaja pernah beradegan tak senonoh di depan publik.

Entah kerasukan apa, suatu sore si Cungkring ngintip lewat lubang kunci kamar Dodot. Ngeliat Dodot dalam posisi berdiri menghadap poster Tera Patrick (siapa itu?) dengan kolor melorot.
Setengah teriak, setengah bisik2, Cungkring memanggil penghuni kamar sebelah: “Guuuysss! Siniiii… Belum pernah liat yg ini kan??”.
Semenit kemudian lubang kunci kamar Dodot ‘digilir’ 4 cowok penasaran.
Terdengar seruan dari dalam: “Hoi! Siapa di depan??”
Tapi kerumunan telah bubar.  Kalo waktu itu ponsel kamera udah ngetop, videonya pasti udah diupload dng title: ‘Jogja-O-Nani’ berdurasi 3 menit.

***

Oiyaa… Inget waktu studi wisata di Bali. Kami belanja di Joger yang penuh sesak. Belum ditambah ributnya serombongan mahasiswa2 Jogja.

Mbak pelayan tokonya kewalahan ngejawab pertanyaan2 norak para cewek.
“Mbak, ada warna pink ngga?”
“Mbak, harganya bisa diturunin lagi ngga?”
“Mbak, ini kata2nya bisa dicustomize ngga?”
Emang toko elo? Kata mbaknya. Tapi dalem hati aja.

Tau2 terdengar teriakan dari kasir depan: “Heei itu…!! SIAPA TADI BAYAR PAKE UANG PALSU?!?!”

Sekilas gw liat sosok tinggi kurus menyelinap cepat keluar. Ketebak deh siapa.

***

Yah. Itulah Bong Cungkring. Ngga ada orang tau apa isi otaknya. Entah di mana dia sekarang. Lagi ngapain. Bersama siapa. Rindu? Ehm… nope.

About Bung Iwan

Punya tangan kiri seorang pelukis, tangan kanan seorang penulis dan imajinasi menggabungkan keduanya. View all posts by Bung Iwan

24 responses to “Where’s Cungkring?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: