Public Space Kondisi Memprihatinkan

Sedikit ngomongin kegiatanku akhir taon kemaren. Awalnya aku berniat membereskan kamar. Kamarku penuh dengan buku-buku punya kakakku. Lho kok ngga ditaruh di rumah dia sendiri gitu?

Dia jarang di rumah karena kerjanya di luar kota. Lagi rumahnya itu jadi tempat langganan maling. Sampe 3 kali malah. Jadi ‘dititipkannyalah’ barang-barang itu di kamarku. Buku-buku inilah yang menutup aksesku buat naruh baju, nulis, duduk, bahkan tidur! Mana buku ini udah berabad-abad ngga pernah dibaca pula. Dia cuma beli buku, dipamerin, trus ditaruh gitu aja. Kapan bacanya ya, hanya Tuhan yang tau. Padahal buku-buku punyaku ngga terlalu banyak. Mostly sumber informasiku kan dari internet, bukan buku. Jadi datanya cukup di segenggaman flashdisk🙂

Ya sudahlah. Aku sumbangin aja buku-buku itu ke Perpustakaan Kota. (Aku juga nodong keponakanku buat nyerahin ‘komik-komik terabaikan’nya. Eh, dia mau lho.)

Jarang banget orang Solo tau di mana itu Perpustakaan Kota. Kalau ada pembaca tanya, letaknya di Kepatihan, dekat Kejaksaan Tinggi. Papan namanya kecil, seakan kurang percaya diri. Jangan hanya menyalahkan rendahnya minat baca. Tempatnya sendiri sedikit menyiksa peminat buku.

Perpustakaan Kota Solo punya ruang baca remang-remang. Apa mereka ngga kuat bayar listrik ya? Aku coba cari-cari sumber sinar, siapa tau mereka pakai lampu teplok (minyak). Dugaanku, pengunjungnya paling pencari lowongan kerja yang mau baca koran gratis. Tuh semuanya pada baca koran. Itu juga bacanya di teras yang diterangi cahaya luar. Udara  penuh dengan lembabnya aroma kertas tua. Agak panas. Ruangan selalu tertutup walaupun berjendela. Bisa jadi alasannya sinar matahari akan merusakkan kondisi buku-buku tua atau apalah. Ngga ada bukti foto ya. Percuma juga mau foto di situ jadinya item doang.

Perpustakaan Ideal

paling tidak beginilah perpustakaan seharusnya

Perpustakaan ini beda banget dengan bayanganku waktu kecil. Kalau Anda pernah baca Trio Detektif atau Pasukan Mau Tahu (dan Tempe), mereka punya perpustakaan kota yang gede. Begitu masuk, mereka langsung dilayani (atau langsung bisa tanya ke) pustakawan di situ. Mau cari buku apa atau informasi apa. Librarian-nya tau banget apa yang mereka mau. Trus mereka boleh duduk seharian di situ sambil baca setumpuk dua tumpuk buku. Kursinya pasti empuk, buktinya Bob Andrews betah tuh seharian di perpustakaan kota. Bisa catat-catat. Ada tempat fotokopi-nya. Eh, juga bisa cari data berupa microfilm (kalau jaman sekarang ya, datanya berupa file lah).

Aku bukan mau menjelekkan Perpustakaan Kota Solo. Bahkan kalau ada kesempatan boleh juga tuh para insan kreatif bikin kampanye mempromosikan perpustakaan. Tapi dibenahi dulu dong tempatnya.

(btw, mungkin saat ini kakakku bertanya-tanya mengapa jumlah bukunya menyusut)

About Bung Iwan

Punya tangan kiri seorang pelukis, tangan kanan seorang penulis dan imajinasi menggabungkan keduanya. View all posts by Bung Iwan

3 responses to “Public Space Kondisi Memprihatinkan

  • Lutfi Retno Wahyudyanti

    Kapan ya di Indonesia (terutama di kota-kota kecilnya) ada banyak perpustakaan yang menyenangkan? Selama ini saya tidak terlalu menyukai perpustakaan kampus atau kota. Koleksi bukunya jarang diperbaharui juga sering berdebu.

    • heftymonk

      kita berharap juga sih. eh, jangan salah. di solo juga ada lho perpustakaan yang bersih. ehm. sebenernya lebih tepat disebut persewaan buku. tapi tempatnya sangat bersih dan nyaman. kapan2 akan saya bahas. terima kasih, mbak Lutfi

  • Hal

    This is a good blog. Keep up all the work. I too love blogging and expressing my opinions. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: