Bola Pengingat di Sekitarku

Hotel tempat kami ngabisin liburan memang gede. Tujuh lantai! Coba naek tangga bisa tepor kakinya. Tapi mengapa justru itu yang terjadi? Satu-satunya lift ke atas malah macet. Mana capek abis jalan-jalan, terpaksa pula kami olahraga berat ‘angkat kaki’. Baru 4 lantai aja rasanya udah mau copot ini kaki, apalagi naik 3 lantai lagi!

Di lantai 7, dengan tersengal-sengal temanku tanya, “Kuncinya, Wan?”
Aku bilang, “Eh… Aku lupa. Kuncinya kan masih di resepsionis…”
“AMBIIILLLLLL ..!!!!”

Aku mau bilang bahwa salah satu sifat burukku adalah pelupa. Waktu mau pergi, mesti balik lagi karena kelupaan bawa barang. Ada janji di lokasi A, eh, asyik nongkrong di lokasi E. Yang sering bikin kantong bolong adalah ketinggalan barang di tempat umum. Dicari, udah ilang. Terpaksa beli lagi. (oh, flashdisk-ku sayaaang…). Sebenernya ada yg lebih parah: ada orang utang, aku lupa nagih.

Ada nggak sih Remembrall (Bola Pengingat) kayak punya Neville Longbottom?

Remembrall

Stop ngayal. Nggak ada Bola Pengingat. Aku bisa cari benda lain yang lebih nyata. Berdasar pengalaman, inilah caraku mengingatkan diri sendiri:

  • Bawa buku catatan kecil yang pas dimasukin saku. Kalau perlu yang ada tempat untuk masukin bolpoin. Ke mana-mana buku itu dibawa. Catet hal-hal yang terlintas di kepala. Malamnya, aku review lagi.
  • Manfaatkan reminder di gadget atau PC. Begitu ada janji aku langsung masukin jadwalnya di HP-ku, berikut jamnya, aku setel alarm beberapa menit sebelumnya. Pada PC, aku install Rainlendar (ada yang lebih bagus nggak? Tolong share dong).
  • Aku punya ‘tas pengingat’ — tas kecil yang setia menemani aku. Tas dengan berat tertentu yang ngingetin aku jika bebannya lebih ringan. Kok enteng? Ada yang ketinggalan? Apa ya? Kalau barangnya ringan, — misalnya flashdisk — ngeliat tas itu saja aku dipaksa untuk berhenti melangkah dan berpikir: OK, apa yang mesti aku bawa sebelum keluar dari sini?
  • Persiapkan barang yang mau dibawa jauh beberapa saat sebelumnya. Kalo mau liburan, paling tidak sehari dua hari sebelumnya. Kalo ada janji, beberapa jam sebelumnya sudah harus siap.

Selain benda-benda pengingat disebutkan di atas, aku punya buku catatan utang, jadwal agenda, kertas tempel, Jubah Tak Terlihat, Keris Pembunuh Naga dan masih banyak lagi yang ngga semuanya bisa aku jelasin.

Kata orang, mencegah lebih baik daripada mencegat. Pencegah lupa justru lebih penting. Karena itulah kita perlu organizing.

Aturlah barang-barang

  • Hidup teratur, termasuk mengatur barang-barang pada tempatnya. Jangan anggap remeh barang kecil tergeletak. Bisa jadi penting. ‘Rumah’-kan barang itu dan jangan terlalu sering dipindah. Segera kembalikan barang pada tempatnya setelah selesai digunakan. Jangan berpikir ‘biarin di situ dulu ah, ntar kan dipake lagi’.
  • Miliki sistem sorting (seperti di komputer — sort by alphabet, sort by priority, sort by time, etc) untuk hal apa saja baik barang maupun kegiatan. Jika sudah tak terpakai atau sudah lewat, buang saja.

Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat. I’m not saying that hal-hal tadi menjamin tidak membuat lupa. It just…. eh, aku lupa. Aku ngomong apa tadi?

About Bung Iwan

Punya tangan kiri seorang pelukis, tangan kanan seorang penulis dan imajinasi menggabungkan keduanya. View all posts by Bung Iwan

4 responses to “Bola Pengingat di Sekitarku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: