Sudah jatuh, ketimpa tangga… keinjek pula!

Ternyata ngga semua orang suka dengan nasi kuning-nya bu Sri (baca blog sebelumnya: aku dan gajah kecil berbelalai panjang, ada nggak ya?). Salah satunya adalah mbak Ina yg juga baru aja buka warung kecil. Dia bilang nasi kuningnya… ngga enak..!

Aku nyaris nyemburin nasi kuning di mulutku ke muka dia. Apaaa?? Ngga enaaak??? Tapi.. tapi… tapi ok-lah .. semua orang punya iler sendiri-sendiri.

Bukan itu yang mau aku ceritain. Mbak Ina ini baru aja buka warung pake modal nekat. Abis kena phk perusahaannya, dia ngga mau ingkang-ongkang menikmati jobless-nya. Ini yang patut dicontoh. Dia mau kerja apa aja. Jadi tukang icip-icip di istana Sultan Brunei pun mau! .

Kerna dia jago masak (kata sodara2nya sih), jadi dia kuras isi tabungannya untuk buka warung. Bener-bener abis! Ngga ada tabungan. Duitnya cuma nangkring 50 ribu perak di dompetnya. Aduh, mbak. Kasian amat. Trus gimana mau makan?

”Yah.. gampang lah. Makan aja di warung sendiri!” Hah?

Pas waktu itu ada orang masuk ke warungnya Lirik sana lirik sini. Trus dia tanya ama mbak Ina: “Mbak, yang punya warung mana?”

”Lagi berdiri di depan mas ini. Emangnya kenapa sih?”
”Eeh,.. oh.. nggak. Cuma minta dibungkusin nasi campur 20 bungkus.”
”Du.. duapuluh..? Waaaw.. Puji Tuhan..! OK, Mas. Right away!”

Aku yang liat dia mulia sibuk, pamit pergi biar ngga ganggu dia lagi.

Tapi beberapa jam kemudian. Aku dapet kabar mengejutkan dari pak Max, temen kita. Beliau bilang mbak Ina kecurian. Dia punya duit satu-satunya ilang. Berikut dompet tempat nyimpen duit, termasuk surat-surat penting di sana. Kartu identitas. ATM yg walaupun ngga ada isinya. Ngga cuma itu. Henpon satu-satunya juga ikut dicuri!

Ternyata orang yang minta dibungkusin nasi 20 bungkus tadi itu adalah maling. Dia sengaja bikin mbak Ina sibuk, trus pura-pura ke toilet. Abis itu dia pamit ke seberang jalan sebentar buat beli rokok. Dan dia ngga pernah kembali. Mbak Ina baru sadar bahwa dompet dan henpon-nya juga ikut ilang.

Aku ngga bisa ngomong apa-apa. Mungkin kalo aku tetep tinggal di warung, aku bisa mencegah itu terjadi ya. Aduh, mbak. Udah jatuh tertimpa tangga, diinjek orang lagi. Udah ngga punya duit, eh.. malah kemalingan. Semoga malingnya sadar bahwa dia ngga semua orang yang buka warung itu orang kaya.

About Bung Iwan

Punya tangan kiri seorang pelukis, tangan kanan seorang penulis dan imajinasi menggabungkan keduanya. View all posts by Bung Iwan

One response to “Sudah jatuh, ketimpa tangga… keinjek pula!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: